Waspadai Fenomena Self-Harm, Psikolog RSUD Hadji Boejasin Tekankan Pentingnya Manajemen Emosi dan Dukungan Keluarga
PELAIHARI – Fenomena melukai diri sendiri atau self-harm kini menjadi perhatian serius di kalangan praktisi kesehatan mental.
Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis RSUD Hadji Boejasin, Leli Nailul Muna, M.Psi, memberikan paparan mendalam mengenai faktor pemicu dan cara penanganan perilaku yang kerap terjadi di kalangan remaja hingga dewasa muda ini. di ruang kerjanya RSUD Hadji Boejasin,kamis (16.04/2024)
Dalam penjelasannya, Leli Nailul Muna mengungkapkan bahwa self-harm sering kali menjadi mekanisme koping (cara penyelesaian masalah) yang salah bagi seseorang yang mengalami tekanan emosional hebat. Perilaku ini dilakukan untuk mengalihkan rasa sakit emosional menjadi rasa sakit fisik sebagai bentuk pelampiasan rasa frustrasi, kesedihan, atau perasaan hampa.
"Self-harm bukanlah upaya bunuh diri secara langsung, namun merupakan sinyal bahwa seseorang sedang mengalami kesulitan besar dalam mengelola emosinya. Mereka merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, sehingga melampiaskannya melalui tindakan menyakiti diri sendiri," ujar Leli.
Ia menambahkan bahwa ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai oleh lingkungan sekitar, terutama orang tua. Tanda-tanda tersebut meliputi adanya luka atau bekas luka yang tidak jelas asalnya, perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, hingga penggunaan pakaian tertutup secara terus-menerus meskipun dalam cuaca panas untuk menyembunyikan luka.
Lebih lanjut, Psikolog RSUD Hadji Boejasin ini menekankan pentingnya peran keluarga sebagai sistem pendukung utama. Alih-alih memberikan penghakiman atau kemarahan, keluarga diharapkan hadir dengan empati dan mendengarkan tanpa menghujat.
"Langkah pertama adalah memberikan ruang yang aman bagi mereka untuk bercerita. Jika kondisi ini terus berulang, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional, seperti psikolog atau psikiater, agar mereka mendapatkan terapi perilaku dan manajemen emosi yang tepat," tambahnya.
RSUD Hadji Boejasin sendiri terus berupaya menyediakan layanan konsultasi psikologi yang inklusif untuk membantu masyarakat Tanah Laut yang membutuhkan dukungan kesehatan mental. Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat dan stigma terhadap penderita gangguan emosional dapat berkurang.