Opini : Hisyam Kumkelo, S. H , (Aktivis Kepemudaan dan Penggiat)

Tanah Laut: Masih Menjadi Tujuan Wisata atau Mulai Hanya Menjadi Daerah Perlintasan?

Tanah Laut sejak lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Kalimantan Selatan. Ketika musim libur tiba maupun akhir pekan datang, pantai, perbukitan, hingga air terjun di daerah ini selalu menjadi pilihan masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tanah Laut telah memiliki identitas sebagai daerah wisata jauh sebelum sektor pariwisata berkembang seperti saat ini.

Anugerah alam yang dimiliki Tanah Laut merupakan kekuatan besar yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Pantai Takisung, Pantai Batakan Baru, Air Terjun Bajuin, Gunung Kayangan, Gunung Birah, Bukit Sapu Angin, serta berbagai destinasi lainnya merupakan aset yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Di balik bertahannya berbagai destinasi wisata tersebut, terdapat banyak pihak yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan. Patut diapresiasi peran pemerintah desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), komunitas, para pemerhati jasa lingkungan (jasling), pemerhati pariwisata, relawan, pegiat media sosial, hingga masyarakat di sekitar destinasi yang terus menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, sekaligus memperkenalkan potensi wisata Tanah Laut kepada masyarakat luas. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka membuktikan bahwa kemajuan pariwisata tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga lahir dari kepedulian, gotong royong, dan kecintaan terhadap daerah. Semangat seperti inilah yang menjadi modal sosial yang sangat berharga dan sudah sepatutnya mendapat dukungan serta ruang kolaborasi yang lebih besar.

Namun, pengembangan pariwisata tentu tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah desa maupun komunitas. Dibutuhkan kehadiran pemerintah daerah, khususnya perangkat daerah yang membidangi sektor pariwisata, sebagai pengarah, fasilitator, sekaligus penggerak agar setiap potensi wisata berkembang dalam satu konsep yang terintegrasi. Kehadiran pemerintah diperlukan bukan hanya melalui promosi, tetapi juga melalui penataan kawasan, peningkatan infrastruktur pendukung, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan pengelola, serta membangun citra pariwisata Tanah Laut secara konsisten.

Di sisi lain, Tanah Laut juga menghadapi tantangan baru. Semakin banyak destinasi wisata di daerah sekitar yang berkembang pesat dan menjadi tujuan utama wisatawan, seperti kawasan Teluk Tamiang dan berbagai objek wisata lainnya. Kondisi tersebut bukan untuk dipandang sebagai persaingan ataupun menimbulkan rasa cemburu antardaerah. Sebaliknya, keberhasilan daerah lain seharusnya menjadi inspirasi bahwa potensi wisata akan berkembang ketika dikelola dengan visi yang jelas, promosi yang kuat, dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Jangan sampai Tanah Laut hanya dikenal sebagai kabupaten yang dilewati wisatawan dalam perjalanan menuju destinasi lain. Padahal, daerah ini memiliki kekayaan alam yang tidak kalah indah serta sejarah panjang sebagai salah satu tujuan wisata masyarakat Kalimantan Selatan. Potensi besar tersebut harus kembali dihidupkan sehingga Tanah Laut bukan hanya menjadi jalur perlintasan, melainkan benar-benar menjadi tujuan utama perjalanan wisata.

Sudah saatnya seluruh potensi tersebut dihimpun dalam satu visi bersama. Pemerintah dapat membangun kolaborasi dengan pelaku perjalanan wisata (travel), komunitas pariwisata, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, generasi muda, pemerhati jasa lingkungan, pemerhati pariwisata, pegiat media sosial, akademisi, hingga masyarakat di sekitar destinasi. Di saat yang sama, arah kebijakan pembangunan pariwisata perlu lebih dahulu berpihak kepada kebutuhan para pelaku jasa wisata. Sebelum berbicara mengenai peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang harus menjadi prioritas adalah memastikan para pelaku wisata memperoleh dukungan yang mereka butuhkan, mulai dari infrastruktur yang memadai, kemudahan perizinan, pembinaan dan peningkatan kapasitas, promosi yang berkelanjutan, hingga iklim usaha yang sehat. Ketika pelaku jasa wisata mampu berkembang, kualitas destinasi akan meningkat, wisatawan akan datang dengan sendirinya, ekonomi masyarakat akan bergerak, dan pada akhirnya PAD akan tumbuh sebagai hasil dari ekosistem pariwisata yang sehat, bukan semata-mata sebagai target yang dikejar. Kolaborasi inilah yang akan melahirkan paket wisata yang menarik, kalender kegiatan yang berkelanjutan, promosi digital yang lebih luas, serta pengalaman wisata yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung.

Selain itu, pengembangan pariwisata juga perlu diarahkan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan harus menjadi peluang tumbuhnya usaha kuliner, penginapan, kerajinan lokal, jasa transportasi, pemandu wisata, hingga produk-produk UMKM. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tanah Laut tidak kekurangan panorama alam yang memikat. Tanah Laut juga tidak kekurangan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan kemajuan pariwisata. Yang dibutuhkan hari ini adalah sinergi yang lebih kuat, perencanaan yang berkelanjutan, serta keberanian untuk terus berinovasi. Ketika pemerintah hadir sebagai penggerak, masyarakat dilibatkan sebagai pelaku utama, dan seluruh pemangku kepentingan berjalan dalam satu arah, maka slogan "Tanah Laut, The Great Tourism Destination of South Kalimantan" tidak lagi sekadar menjadi harapan, melainkan identitas yang benar-benar hidup dan dirasakan oleh setiap orang yang datang berkunjung.

Bagikan Postingan Ini

Berita Terkait
Beranda Liputan Nasional Politik